KETAATAN YANG TANPA MEMANDANG DATA DAN FAKTA YANG ADA
8:12 Selanjutnya ditunggunya pula tujuh hari lagi, kemudian dilepaskannya burung merpati itu, tetapi burung itu tidak kembali lagi kepadanya. 8:13 Dalam tahun keenam ratus satu, dalam bulan pertama, pada tanggal satu bulan itu, sudahlah kering air itu dari atas bumi; kemudian Nuh membuka tutup bahtera itu dan melihat-lihat; ternyatalah muka bumi sudah mulai kering. 8:14 Dalam bulan kedua, pada hari yang kedua puluh tujuh bulan itu, bumi telah kering. 8:15 Lalu berfirmanlah Allah kepada Nuh: 8:16 "Keluarlah dari bahtera itu, engkau bersama-sama dengan isterimu serta anak-anakmu dan isteri anak-anakmu; 8:17 segala binatang yang bersama-sama dengan engkau, segala yang hidup: burung-burung, hewan dan segala binatang melata yang merayap di bumi, suruhlah keluar bersama-sama dengan engkau, supaya semuanya itu berkeriapan di bumi serta berkembang biak dan bertambah banyak di bumi." 8:18 Lalu keluarlah Nuh bersama-sama dengan anak-anaknya dan isterinya dan isteri anak-anaknya. 8:19 Segala binatang liar, segala binatang melata dan segala burung, semuanya yang bergerak di bumi, masing-masing menurut jenisnya, keluarlah juga dari bahtera itu.
Ketika kita membaca Kejadian 8:12, Nuh ingin mengetahui apakah bumi sudah kering agar mereka dapat keluar dari Bahtera. Nuh melepaskan burung Merpati, namun burung tersebut tidak kembali. Dalam arti burung Merpati tersebut sudah mendapatkan tempat untuk menjejakkan kakinya, entah di daratan ataupun di dahan-dahan pohon. Yang menarik lanjutan dari ayat 12 ini, Nuh membuka tutup bahtera dan mendapati bahwa sebenarnya bumi telah menjadi kering, bahkan dalam ayat 14 ditekankan kembali bahwa dalam bulan kedua bumi telah kering. Artinya sebenarnya Nuh dapat saja keluar dari bahtera dan mencoba menjejakkan kaki di daratan yang sudah kering tersebut. Namun apa yang terjadi? Nuh tidak melakukan semuanya itu, Nuh sama sekali tidak keluar dari Bahtera bersama keluarga dan hewan-hewan yang ada dalam Bahtera. Mengapa? karena Nuh menunggu perintah Tuhan. Yess! Nuh menunggu perintah dari Tuhan.
Terlihat dalam ayat 15, Tuhan memerintahkan Nuh agar keluar dari Bahtera bersama keluarga dan seluruh hewan yang dibawanya dalam Bahtera. Woow....sebuah ketaatan yang tidak memandang fakta dan data yang ada di sekelilingnya walaupun fakta dan data tersebut sangat mendukung. Ketika merenungkan tindakan Nuh tersebut, saya diingatkan oleh Roh Kudus bahwa dalam Matius 4:4, Yesus pernah berkata di hadapan iblis bahwa manusia tidak hidup dari roti saja melainkan dari setiap perkataan yang keluar dari mulut Allah. Tepat sekali! perkataan yang keluar dari mulut Allah adalah perintah bagi Nuh untuk keluar dari Bahtera.
Dari renungan kisah Nuh tersebut, Tuhan menantang saya untuk melakukan seperti yang Nuh dan kebanyakan para tokoh Alkitab lakukan, yaitu mentaati perkataan Tuhan tanpa memandang fakta dan data di sekelilling kita mendukung ataupun tidak. Kebanyakan dari manusia, ketika mereka melihat bahwa fakta dan data di sekeliling mereka sangat mendukung untuk mereka melakukan perkataan Tuhan, mereka dengan antusias melakukannya. Namun sebaliknya ketika fakta dan data kurang mendukung, maka mereka menjadi ragu-ragu untuk melakukannya.
Abraham ketika diminta oleh Tuhan untuk meninggalkan tanah kelahirannya yang kalo bisa dikatakan sangat mapan, tidak ada bahan pertimbangan apapun. Ia membawa istri dan orang-orangnya untuk pergi ke negeri yang akan ditunjukkan oleh Tuhan. Yesss, mungkin Abraham berpikir, kemana harus melangkah? apakah tempatnya nanti sama dengan tempat kelahirannya yang nyaman dan mapan? apa yang akan dialami olehnya di tempat yang baru? Kita dapat melihat ketaatan Abraham kepada perintah Tuhan sekalipun fakta dan data sekelilingnya tidak mendukung untuk Abraham mulai berjalan. Tuhan yang menuntun kehidupan Abraham dan seluruh rombongannya. Alkitab mencatat, selama perjalanan, Abraham tidak pernah mengalami kesengsaraan atau kekurangan karena Allah yang memelihara kehidupannya.
Hal yang sama ketika Abraham diminta mempersembahkan Ishak, putra satu-satunya di masa tuanya. Abraham menyampaikan kepada kedua bujangnya yang mengantar mereka, "tinggallah di sini, kami akan sembahyang dan kami akan kembali. Kata "kami" membukakan mata rohani kita bahwa begitu dalamnya ketaatan Abraham, pengenalan Abraham tentang Tuhan, walaupun secara fakta dan data, Abraham tahu bahwa kalau Ishak dipersembahkan sebagai korban bakaran, pasti ia akan kembali kepada kedua bujangnya tanpa Ishak. Namun Kitab Ibrani 11 mencatat iman Abraham yang mempercayai bahwa Tuhan sanggup membangkitkan Ishak dari kematian. Ketaatan yang tanpa memandang fakta dan data, itu yang Tuhan mau kita hidupi.
Mari kita terus deklarasikan bahwa kita mau dibentuk ulang oleh Tuhan dan mempercayai Tuhan sepenuh hati, mentaati segenap perintah Tuhan. Walaupun fakta dan data di sekeliling kita sangat mendukung untuk melakukan sendiri, tetapi kita mau tetap menunggu sampai Tuhan menyatakan firman-Nya dalam hidup kita, barulah kita bergerak sesuai tuntunan Tuhan. Amin.
Penulis,
Rommy J. Handoyo, S.Pd
No comments:
Post a Comment